IBA atau IKATAN BELADIRI AIKIDO adalah suatu Grup Aikido di bawah naungan atau terafilliasi dengan Yayasan Indonesia Aikikai berdiri pada tahun 2007.
IBA sendiri diasuh oleh Rifky Alfarest Sensei dan Budiwan Jihadillah sensei..
IBA memiliki beberapa dojo di wilayah Jakarta dan Depok, yaitu Dojo Samina Depok, Dojo Trakindo, Dojo grande.
Jadwal Latihan :
Dojo samina : Rabu, Minggu & jumat, pukul : 19.30 s/d selesai .( public)
Dojo Grande :rabu & sabtu, pukul: 17.00 wib s/d selesai.(public)
Dojo Trakindo : selasa & kamis. ( member/internal)
Dojo UPN : COMING SOON..
IBA sendiri diasuh oleh Rifky Alfarest Sensei dan Budiwan Jihadillah sensei..
IBA memiliki beberapa dojo di wilayah Jakarta dan Depok, yaitu Dojo Samina Depok, Dojo Trakindo, Dojo grande.
Jadwal Latihan :
Dojo samina : Rabu, Minggu & jumat, pukul : 19.30 s/d selesai .( public)
Dojo Grande :rabu & sabtu, pukul: 17.00 wib s/d selesai.(public)
Dojo Trakindo : selasa & kamis. ( member/internal)
Dojo UPN : COMING SOON..
Saturday, November 14, 2009
Friday, April 17, 2009
Menemukan Jati Diri
Banggakah kita dengan apa yg sudah kita dapat dan pelajari selama terjun di dunia aikido, sudahkah kita menemukan jati diri kita.............
Monday, January 12, 2009
Artikel
Filosofi Aikido by: Bambang Ali Utomo Sensei
Filosofi Aikido kaya akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.
Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari.
Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya. Pada hakama terdapat 7 butir ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Pedang). Tujuh ajaran ini meliputi: (1) Kebenaran dan Kebaikan, (2) Sikap Hormat dan Kehormatan, (3) Ketulusan dan Kejujuran, (4) Loyalitas, (5) Kesopanan dan Sopan Santun, (6) Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan, (7) Keberanian. Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.
Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi” yang berarti “ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”. Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya musuh terbesar dalam hidup kita adalah mengalahkan diri sendiri, setelah berhasil, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Musuh sebenarnya adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”.
Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.
Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan untuk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.
Filosofi Aikido kaya akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.
Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari.
Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya. Pada hakama terdapat 7 butir ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Pedang). Tujuh ajaran ini meliputi: (1) Kebenaran dan Kebaikan, (2) Sikap Hormat dan Kehormatan, (3) Ketulusan dan Kejujuran, (4) Loyalitas, (5) Kesopanan dan Sopan Santun, (6) Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan, (7) Keberanian. Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.
Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi” yang berarti “ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”. Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya musuh terbesar dalam hidup kita adalah mengalahkan diri sendiri, setelah berhasil, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Musuh sebenarnya adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”.
Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.
Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan untuk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.
Saturday, December 20, 2008
sebuah renungan,..
suatu ketika disaat kita memutuskan untuk memilih aikido sebgai olah raga beladiri yg kita pilih mungkin salah satu dari ribuan alasannya dikarenakan bahwa dengan beljar aikido maka kita dapat mengendalikan EGO kita sendiri, tetapi apkah benar dgn Aikido EGO tsb dpt diminimalisir dri diri kita atau bahkan dihilangkan ( hanya anda sendiri yg dpat menjawabnya ), mungkin kita pernah mengamati dimana seharusnya semakin tinggi suatu tingkatan maka selayaknya EGO itu dpt kita kendalikan bukan malah EGO yg mengambil alih diri kita, dan selayaknya pula ketulusan dalam menjalin silahturahmi itu datang dari hati bukan hanya sebuah ucapan manis dibibir saja.
Thursday, October 23, 2008
Sunday, September 21, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)



